Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota Madura; LPM Insan Kampus, LPM Voice Of Law, LPM ALIPI, LPM SAINT,LPM GLEBOVA, LPM Spirit Mahasiswa, LPM Fotografi dan Jurnalistik

Kamis, 02 Juni 2011

PJTD FKIP Unira & Silaturahmi Sekjend PPMI Nasional dan BP Nas Media Ke LPM Sumenep

Banyaknya acungan tangan peserta waktu Andi Mahifal mengisi materi di pelatihan jurnalisitik menandakan masih tersisa sense of journalist (Ghairoh jurnalistik) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Madura yang sudah 3 tahun fakum. BEM Fakultas KIP dan LPM Glebova Univ. Madura sebagai fasilitator acara tersebut mempunyai cita-cita sederhana yaitu reorganisasi LPM Wahana tingkat fakultas yang 3 tahun lalu eksis dan sempat menerbitkan majalah. Diklat materi berlangsung selama dua hari dan akan di lanjutkan dengan diklat lapangan dan studi banding ke LPM anggota PPMI wilayah Jatim dan ke Jawa Pos.

“Salam Pers Mahasiswa…!” dengan gaya khasnya, Andi Mahifal melantunkan salam kepada peserta sebelum hengkang dari tempat acara sebagai penyemangat dan pemersatu emosi antar penggiat persma. (sebenarnya harapan sekjen madura, pak seknas dapat bacakan puisi)

Andi mahifal di Pamekasan, akan menjadi dosa besar jika tidak sampai ke kota sumenep. Bisa jadi dikutuk oleh 7 LPM yang ada di kabupaten paling timur madura.
Namun suasana itu semuanya melebur ketika Rombongan dari LPM pamekasan mendampingi (bukan mengekploitasi) Andi Mahifal selaku sekjen nas dan Defi Firman Al-Hakim selaku BP Media Nas tiba di kota sumenep. Perbincangan santai pun dengan sendirinya tercipta tanpa ada komando, dari pembacaan internal kota, kondisi LPM hingga curhat pribadi. Perbincangan kala itu semakin hangat saja, sehangat kopi yang setia menemani forum. Akhir cerita, dari forum tersebut disepakati:
1. Pertengahan juni safari pers ke LPM Fajar Instika, acara Launching Majalah Fajar
2. Lanjutkan jambore pers
3. Intensifkan media kota dan media nasional
4. Garap media bersama, 'Merah Putih'
5. Adanya surat edaran/ pemberitahua dari PPMI ke Rektor/ Ketua, terkait keanggotaan LPM di PPMI...
6. Ayo ngopi bereng lagi....

Akhir dari agenda, sekjen nasional mengadakan konsolidasi arwah ke Asta Tinggi kab. Sumenep.

Salam persma….!
Labeng Mesem, 31 Mei-01 Juni 2011

Minggu, 29 Mei 2011

Pernyataan Sikap hari Buruh Internaional

PERNYATAAN SIKAP
PERHIMPUNAN PERS MAHASISWA INDONESIA
HARI BURUH INTERNASIONAL
01/PS/PPMI/V/2011



Hari ini 1 Mei 2011, Kami PERHIMPUNAN PERS MAHASISWA INDONESIA (PPMI) pada peringatan Hari Buruh Sedunia, Kaum Buruh Indoensia kembali berkumpul dan meneriakan kepada pemerintah atas segala hak-hak yang selama ini dikebiri oleh kaum pengusaha dan pemilik modal. Buruh pabrik, buruh kantoran, buruh pertambangan, buruh perkebunan, buruh kehutanan, buruh pasar modern atau ritel, buruh angkut atau kuli, buruh transportasi, buruh kebersihan, buruh kesehatan, buruh tani, dan buruh pada seluruh sektor ekonomi lainnya, menanggalkan perbedaan untuk temukan persamaan kondisi di dalam penghisapan neoliberalisme.

Persoalan-persoalan Kaum Buruh tidak kunjung usai. Upah murah masih seperti di jaman kolonial Belanda. Kenaikan minimum tiap tahun tidak layak selalu disebut suatu perbaikan upah, padahal hanya penyesuaian terhadap kenaikan harga barang kebutuhan. Tawaran lembur dari perusahaan seolah jadi penyelamat untuk penuhi kebutuhan hidup, sekalipun harus menguras lebih banyak tenaga dan waktu. Jam kerja yang panjang disertai perlindungan yang tidak memadai membuat kesehatan dan keselamatan kerja Kaum Buruh selalu berada dalam kerentanan.

Pemutusan hubungan kerja sangat mudah terjadi. Hubungan kerja tidak menjamin keberlangsungan bekerja, ditandai meluasnya sistem kerja kontrak dan outsourcing. Jaminan sosial sampai hari tua belum diperoleh mayoritas buruh. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) justru menekan Buruh berpenghasilan pas-pasan dengan kewajiban iurannya. Pemerintah mengakui bahwa 80% dari Kaum Buruh menerima upah di bawah dua juta rupiah per bulan, tapi pemerintah justru melepas tanggungjawabnya. Pajak yang dihasilkan dari keringat Kaum Buruh sebagian besar dipakai untuk membiayai aparatus negara yang justru turut menindas Buruh.

Sebaliknya, pengangguran atau pekerja paruh waktu berada dalam kondisi yang tak kurang mengenaskan. Kalangan ini berpenghasilan lebih sedikit dengan rentang waktu kerja yang juga lebih singkat. Sebagian yang mengharapkan kehidupan lebih baik terpaksa pergi bekerja di luar negeri tanpa perlindungan dari pemerintah. Sungguh bertentangan dengan kenyataan, saat pemerintahan SBY-Boediono mengatakan bahwa jumlah pengangguran dan orang miskin berkurang.

Seluruh tekanan terhadap Kaum Buruh ini merupakan akibat langsung dari pelaksanaan neoliberalisme. Sistem ini telah menekan biaya tenaga kerja menjadi sekecil-kecilnya melalui politik upah murah, sistem kontrak dan outsourcing, serta pelanggaran hak-hak normatif demi memperoleh profit perusahaan yang sebesar-besarnya. Sistem ini telah memberi jalan bagi perusahaan-perusahaan raksasa asing merampok kekayaan alam yang terkandung di bumi Indonesia: sumber-sumber energi, bahan baku industri, dan pasar untuk produk-produk olahan dari luar.

Dengan demikian, dalam lingkup nasional, Kaum Buruh menghadapi persoalan besar yang sama dengan Kaum Tani, Kaum Miskin Kota, Pelajar dan Mahasiswa, dan Rakyat Indonesia umumnya yaitu penjajahan gaya baru.

Oleh karena itu, dalam momentum peringatan Hari Buruh Sedunia kali ini kembali Kaum Buruh bersama-sama maju menyuarakan tuntutan kepada pemerintahan SBY-Boediono:

1. Hentikan politik upah murah bagi buruh;
2. Hapuskan sistem kerja kontrak dan outsourcing;
3. Jaminan Sosial bagi Kaum Buruh yang ditanggung oleh negara;
4. Tolak kenaikan pajak penghasilan bagi Kaum Buruh;
5. Hentikan eksploitasi sumber daya energi oleh kepentingan asing. Sediakan sumber energi murah bagi industri dalam negeri;
6. Hentikan eksploitasi sumber daya alam oleh kepentingan asing. Sediakan bahan baku murah bagi industri dalam negeri;
7. Hentikan kekuasaan rezim neoliberal SBY-Boediono yang tidak berpihak kepada kaum miskin.

Jakarta, 1 Mei 2011

Sekretaris Jenderal Nasional Badan Pekerja Nasional Advokasi

Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia

CP :

Andi Mahifal (081216000580) Sekretaris Jenderal Nasional PPMI

Pernyataan Sikap Hari Pendidikan Nasional


PERNYATAAN SIKAP
PERHIMPUNAN PERS MAHASISWA INDONESIA 
HARI PENDIDIKAN NASIONAL
02/PS/PPMI/V/2011


Hari ini 2 Mei 2011, Kami Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia, hari ini memperingati hari Pendidikan Nasional tidak akan berhenti untuk terus menyuarakan pendidikan yang tidak pro rakyat. Potret pendidikan Indonesia terlihat kembali dengan jelas. Di bawah rezim neoliberal SBY-Boediono, keadaan pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Di mana-mana, dapat kita jumpai dengan mudah: anak-anak yang berkeliaran di jalanan dan tak dapat bersekolah, sekolah-sekolah ambruk, biaya kuliah mahal, dan bahkan ada pelajar yang bunuh diri karena gagal ujian nasional. Keadaan-keadaan tersebut tentu saja menunjukkan bahwa pemerintahan rezim neoliberal SBY-Boediono telah gagal dalam memenuhi salah satu hak asasi rakyatnya, yakni pendidikan. Lihat saja, berbagai kebijakan pendidikan yang menyengsarakan rakyat begitu banyak dihasilkan selama rezim ini berkuasa.

Undang-Undang Sisdiknas dan Undang-Undang BHP yang jelas merupakan bentuk komersialisasi pendidikan disahkan oleh rezim ini. Belum meratanya kualitas pendidikan di Indonesia tetap diabaikan oleh rezim ini sehingga Ujian Nasional pun terus dipaksa untuk diberlakukan. Selain itu, kurikulum yang digunakan pun masih merupakan kurikulum yang hanya mendukung keberadaan sistem kapitalisme dan neoliberalisme. Kenyataan-kenyataan tersebut tentu tidak terlepas dari fakta sejarah bahwa selama 32 tahun kediktatoran kapitalis Soeharto berkuasa, pendidikan di Indonesia memang dirancang untuk menjerat rakyat dan bukan untuk membebaskan rakyat.

Pendidikan yang membebaskan rakyat memang masih menjadi impian dan harapan bagi kita semua, rakyat pekerja Indonesia. Keberadaan sistem pendidikan yang menindas di bawah kekuasaan neoliberalisme negeri ini tentunya mengingatkan kita pada sejarah di masa penjajahan. Di bawah pemerintahan kolonialisme Belanda, diberlakukan sebuah kebijakan yang bernama politik etis di mana salah satunya adalah mengenai pendidikan. Pendidikan dalam politik etis ditujukan untuk menciptakan tenaga kerja profesional dengan harga yang murah. Selain juga bahwa pendidikan pada waktu itu hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang berasal dari kalangan bangsawan atau ningrat. Hal tersebut tentu tidak berbeda dengan keadaan pendidikan pada masa sekarang ini, di mana pendidikan hanya ditujukan untuk menciptakan tenaga kerja yang murah dan hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang memiliki uang. Slogan Orang Miskin Dilarang Sekolah pun menjadi pil pahit yang terus menerus kita hadapi.

Berbagai pasal mengenai pendidikan dalam konstitusi tertinggi diabaikan oleh rezim kapitalis neoliberal ini. Berbagai konvenan internasional pun ditanda tangani dan diratifikasi, namun semua hanya menjadi basa-basi. Tidak ada yang dipenuhi. Komersialisasi dan liberalisasi pendidikan yang dibuktikan dengan mahalnya biaya dan tidak meratanya kualitas pendidikan masih menjadi bagian paling besar dari buramnya potret pendidikan Indonesia di bawah rezim neoliberal SBY-Boediono saat ini. Dicabutnya UU BHP pada 31 Maret 2011 oleh Mahkamah Konstitusi tentu tidak lantas membuat perjuangan untuk pendidikan yang lebih baik berhenti begitu saja. Tuntutan akan pendidikan yang gratis, ilmiah, demokratis, dan bervisi kerakyatan, tentu harus juga selalu kita perjuangkan.

Pendidikan yang membebaskan rakyat dari keterjajahan sebagaimana yang dicita-citakan oleh tokoh seperti Ki Hajar Dewantara adalah juga cita-cita bagi seluruh rakyat. Dalam momentum hari pendidikan nasional ini, kita melihat kembali buramnya potret pendidikan di negeri ini. Ada sejarah yang berulang. Keadaan pendidikan hari ini tidak ada bedanya dengan keadaan pendidikan di masa kolonial. Berdasarkan pikiran di atas, kami PERHIMPUNAN PERS MAHASISWA INDONESIA menyatakan :

1. Lawan liberalisasi dan komersialisasi terhadap pendidikan yang merupakan hak dasar setiap rakyat Indonesia dan diatur oleh Undang-Undang Dasar.

2. Rezim neoliberal tekah melumpuhkan dan menindas kehidupan rakyat Indonesia dengan menjual pokok-pokok kehidupan, seperti pendidikan kepada para pemilik modal.

3. Hapuskan segala bentuk komersialisasi pendidikan bagi rakyat miskin, dan buat sistem pendiddikan yang ilmiah, demokratis serta mendidik tanpa adanya diskriminasi.

4. Realisasikan anggaran pendidikan 20 % sesuai UUD 1945 dan hentikan pemotongan subsidi pendidikan.


Jakarta, 2 Mei 2011

Sekretaris Jenderal Nasional Badan Pekerja Nasional Advokasi

Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia

CP :

Andi Mahifal (081216000580) Sekretaris Jenderal Nasional PPMI

DEKLARASI KAYU TANGI

Kami, lembaga pers mahasiswa seluruh Indonesia, Sembilan belas tahun lalu dengan kesadaran dan dengan penuh rasa solidaritas, senasib sepenanggungan menyatakan diri berhimpun dalam wadah yang bernama Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia.

Kami sadari mengurus perhimpunan yang mewadahi berbagai lembaga pers mahasiswa yang ada di Indonesia tidaklah mudah. Apalagi orientasi perhimpuan ini adalah kekuatan alternative, bersifat mandiri dan sebagai basis tumbuhnya sikap idealisme dan kepedulian sosial. Sejarah telah mencatat bagaimana perpecahan dan kekuatan politik dari luar mengobrak-abrik perhimpunan ini.

Maka, hari ini, pada ulang tahunnya yang ke 19, kami, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia menyatakan akan mengakhiri semua konflik internal yang menghambat kinerja dan arah gerak PPMI. Kami berkomitmen untuk terus memajukan pers mahasiswa melalui wadah ini.

SALAM PERS MAHASISWA…!!!!


Kayu Tangi, Banjarmasin. 26 April 2011 pukul 00.00 Wita




Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia

Kamis, 03 Desember 2009

Surat Undangan Rapat

Kepada Kawan-kawan, di harapkan bisa download di bawah ini:



Dowload File

Minggu, 29 November 2009

Pembahasan Jambore Persma Se-Madura

(28/11/2009,Taman Bunga). Alun-alun Kota Sumenep, menjadi saksi pertemuan beberapa LPM di Madura untuk menggagas Jambore Pers Mahasiswa se-Madura, dalam pertemuan itu beberapa LPM di Pamekasan dan Sumenep hadir di dampingi Sekjend PPMI DK Madura sekalagus mewakili insan pers mahasiswa Bangkalan, membicarakan beberapa hal. Pertama mengenai pembentukan koordinator wilayah di setiap kabupaten untuk memudahkan arus informasi dan kinerja PPMI DK Madura, kedua pembahasan persiapan Jambore Mahasiswa se-Madura yang akhirnya di putuskan untuk mengadakan pertemuan lanjutan di pamekasan dengan mengundang seluruh LPM yang ada di Madura sabtu 4 desember 2009. Semoga dengan pertemuan ini dapat mengingkatkan ikatan emosional antar LPM sehingga PPMI DK Madura pada masa yang akan datang dapat menjadi wadah yang bermanfaat bagi LPM-LPM di Pulau Maduara. (firman)

Sabtu, 26 September 2009

Sejarah Madura

Sejarah Pulau Madura dan Cuplikan Pulau Madura
Megkaji Sejarah Madura sungguh meellahkan karena literatur yang ada cukup sedikit, untuk pengantar mari kita baca artikel dibawah ini
*BANGKALAN

Pulau Madura

Pulau Madura

Beberapa abad kemudian, diceritakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sangyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, Yang tampak ialah Gunung Geger di daerah Bangkalan dan Gunung Pajudan didaerah Sumenep.

Diceritakan selanjutnya bahwa raja mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Yang pada suatu hari hamil dan diketahui Ayahnya. Raja amat marah dan menyuruh Patihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu. Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak Raja itu tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali ke Kerajaan. Pada saat itu ia merubah nama dirinya dengan Kijahi Poleng dan pakaiannya di ganti juga dengan Poleng (Arti Poleng,kain tenun Madura). Dan gadis yang hamil itu didudukkan di atasnya, serta gitek itu di hanyutkan menuju ke Pulau “Madu Oro”.

Pada saat si gadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kijahi Poleng. Tidak antara lama Kijahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Dengan demikian ibu dan anak tersebut menjadi penduduk pertama dari Pulau Madura.

Perahu-perahu yang banyak berlayar di Pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Segoro berdiam, dan seringkali perahu-perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan ditempat itu. Selain daripada itu para pengunjung memberikan hadiah-hadiah kepada Ibu Raden Segoro maupun kepada anak itu sendiri. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil kijahi Poleng. Kijahi poleng mengajak Raden Segoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kijahi Poleng menyuruh Raden Segoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ke tanah. Tombak itu oleh Kijahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluquro. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Segoro dan mengemukakan kehendak Rajanya. Ibu Raden Segoro mendatangkan Kijahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak raja dikabulkan atau tidak.

Raden Segoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Akhirnya Raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Segoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan Pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Segoro sebagai anak mantunya. Raden Segoro minta ijin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada ibunya. Pada saat itu pula ibu dan anaknya lenyaplah dan rumahnya disebut Keraton Nepa. Karena itu sampai sekarang 2 tombak itu menjadi Pusaka Bangkalan.

*SAMPANG

Pada Zaman Majapahit di Sampang ditempatkan seorang Kamituwo yang pangkatnya hanya sebagai patih, jadi boleh dikatakan kepatihan yang berdiri sendiri. Sewaktu Majapahit mulai mundur di Sampang berkuasa Ario Lembu Peteng, Putera Raja Majapahit dengan Puteri Campa.

Yang mengganti Kamituwo di Sampang adalah putera yang tertua ialah Ario Menger yang keratonnya tetap di Madekan. Menurut cerita Demang terus berjalan kearah Barat Daya diperjalanan ia makan ala kadarnya daun-daun, buah-buahan dan apa saja yang dapat dimakan, dan kalau malam ia tertidur dihutan dimana ia dapat berteduh.

Perempuan tua itu menjawab bahwa pohon yang dimaksud letaknya didesa Palakaran tidak beberapa jauh dari tempat itu. Dengan diantar perempuan tua tersebut Demang terus menuju kedesa Palakaran dan diiringi oleh beberapa orang yang bertemu diperjalanan.

Pada sauatu saat Demang Palakaran bermimpi bahwa kemudian hari yang akan menggantikan dirinya ialah Kiyahi Pragalbo yang akan menurunkan pemimpin-pemimpin masyarakat yang baik, putera yang tertua Pramono oleh ayahnya disuruh bertempat tinggal di Sampang dan memimpin pemerintah dikota itu.

Ia kawin dengan puteri Wonorono di Pamekasan karena itu ia juga menguasai Pamekasan jadi berarti Sampang dan Pamekasan bernaung dalam satu kerajaan, demikian pula sewaktu Nugeroho (Bonorogo) menggantikan ayahnya yang berkeraton di Pamekasan dua daerah itu masih dibawah satu kekuasaan, setelah kekuasaan Bonorogo Sampang terpisah lagi dengan Pamekasan yang masing-masing dikuasai oleh Adipati Pamadekan (Sampang) dan Pamekasan dikuasai oleh Panembahan Ronggo Sukawati, kedua-duanya putera Bonerogo.

*PAMEKASAN

Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.

Diperkirakan, Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara. Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa kabupaten ini lahir pada jaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri.

Terungkapnya sejarah pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invansi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal dibawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh Sarjana barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH.

Masa-masa berikutnya yaitu masa-masa yang lebih cerah sebab telah banyak tulisan berupa hasil penelitian yang didasarkan pada tulisan-tulisan sejarah Madura termasuk Pamekasan dari segi pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan agama, mulai dari masuknya pengaruh Mataram khususnya dalam pemerintahan Madura Barat (Bangkalan dan Pamekasan), masa campur tangan pemerintahan Belanda yang sempat menimbulkan pro dan kontra bagi para Penguasa Madura, dan menimbulkan peperangan Pangeran Trunojoyo dan Ke’ Lesap, dan terakhir pada saat terjadinya pemerintahan kolonial Belanda di Madura.

Hal ini terbukti dengan banyaknya penguasa Madura yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memadamkan beberapa pemberontakan di Nusantara yang dianggap merugikan pemerintahan kolonial dan penggunaan tenaga kerja Madura untuk kepentingan perkembangan ekonomi Kolonial pada beberapa perusahaan Barat yang ada didaerah Jawa, khususnya Jawa Timur bagian timur (Karisidenan Basuki).

Tenaga kerja Madura dimanfaatkan sebagai tenaga buruh pada beberapa perkebunan Belanda. Orang-orang Pamekasan sendiri pada akhirnya banyak hijrah dan menetap di daerah Bondowoso. Perkembangan Pamekasan, walaupun tidak terlalu banyak bukti tertulis berupa manuskrip ataupun inskripsi nampaknya memiliki peran yang cukup penting pada pertumbuhan kesadaran kebangsaan yang mulai berkembang di negara kita pada zaman Kebangkitan dan Pergerakan Nasional.

*SUMENEP

Sumenep merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang berada di ujung paling Timur Pulau Madura, bisa dibilang sebagai salah satu kawasan yang terpenting dalam sejarah Madura. Kita dapat menjumpai situs-situs kebudayaan yang sampai hari ini masih menjadi obyek pariwisata.

Di Kabupaten itu pula, banyak terpencar pulau-pulau kecil yang kaya akan sumber daya alam dan hasil pertanian. Bahkan, kabupaten ini penuh dengan sejarah raja-raja yang sampai sekarang masih menjadi objek wisata menarik untuk bahan tela’ah dan observasi bagi masyarakat. Yang lebih menarik lagi, di kabupaten ini anda akan temukan sebuah pesantren megah, indah nan modern.

Namanya, Pondok Pesantren Al-Amein Prenduan. Sebagai pesantren kader yang mencetak mundzirul qaum, Pesantren ini menjadi bagian sejarah dari Kabupaten Sumenep. Sebagai bukti, kalau kabupaten ini penuh dengan sejarah, bias kita lihat dari pintu gerbang masjid agung yang ada di tengah-tengah kota.

Sumber : 1001-madura.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More